Selasa, 21 Oktober 2014

Senjaku Kelabu Tanpamu

Senjaku Kelabu Tanpamu.. 
Aku masih di sini, menikmati senja seperti kebiasaan yang sangat sering kita lakukan. Namun kini, senjaku tak lagi jinga. Kini senjaku kelabu, namun tetap ku nikmati. Karna melalui senja-senja ini aku dpat menikmati kebersamaan kita yang tak bisa lagi kita miliki. Melalui senja ini aku dapat merasakan hadirmu. Namun seperti senja, hadirmu akan hilang berganti malam.
Ya, itu yang kurasakan. Ketika aku memiliki mu, aku lupa bahwa sama halnya dengan aku yang menikmati senja. Jika tak benar-benar kunimati senja itu sebaik mungkin ia akan cepat hilang berganti malam gelap, tanpa corak-corak warna idah meski tak terlalu cerah.
Aku, adalah orang yang bodoh. Menyia-nyiakan yang aku miliki hanya untuk mecari sesuatu yang hanya membuat ku senang sesaat. Pdaahal nersamanya aku dapatkan tak hanya yang aku inginkan tapi yang aku buthkan. Bersamanya, kudapati kelamahanku yang disempurnakan olehnya.
Ia tahu aku bukanlah sosok yang begitu sempurna, bahkan aku sangat jauh dari kata sempurna. Namun ketulusannya, mampu menerimaku apa adanya. Ia tak menghiraukan kata-kata orang tentang keburukanku, yang ia tau ia punya rasa sayang yang tulus yang mampu menerimaku apa adanya. Ia seolah ingin membuktikan bahwa ada sisi lain dari ku yang bisa membungkam perkataan-perkataan negative orang-orang tentangku. Bahkan aku sendiri tak yakin dengan apa yang ia fikirkan. Yang aku tahu apa yang orang katakana tentangku hampir sebahagian benar.
Banyak orang yang berkata aku begitu beruntung bisa mnedapatkan ketulusanmu, dan kau adalah orang bodoh yang mau memilihku. Namun kau tetap tak pedulikan itu.kau terus limpahkan aku dengan kasih sayang yang tulus, perhatian-perhatian kecil namun sering, bahkan banyak orang melihat kau terlalu memanjakan orang yang salah.
Kita jalani hari-hari kita dengan penuh cerita dan warna, canda, tawa, berselisih paham, bahkan tak jarang ku teteskan airmatamu. Namun kita sangat menikmati itu. Aku sangat menikmati rutinitas dan kebiasaan-kebiasaan kita. Namun, meski begitu aku tetap saja orang yang dengan cap ketidak sempurnaan itu sering tergoda dengan keindahan-keindahan lain. Padahal aku memiliki keindahan yang sebenarnya-benarnya indah. Tak jarang aku menyakitmu, menorah luka dihatimu baik dengan sadar atau dalam ketidak sadaranku. Tapi kau tetap sabar menghadapiku, kau masih bisa beri senyum terbaikmu ketika orang-orang menyeletuk tentang tingkahku. Aku heran, sebenarnya dengan siapakah aku bersama kini..? malaikat yang menjelma menjadi manusia, atau manusia yang berusaha mencoba menjadi malaikat..? Hei, sadarlah..! Kau itu hanya manusia biasa, jangan merasa mampu menjadi malaikat, tugas malaikat itu berat. Kau takkan mampu mengembannya. Aku tau banyak perih yang kau rasa dalam hatimu selama menghadapiku. Tapi kau seolah tak hiraukan itu. Semakin lama aku bersama mu aku semakin tak ingin kehilanganmu. Karna darimu aku temukan, bahwa masih ada seseorang yang melihatku dari posisi yang berbeda dari pandangan orang lain.
Meski aku sadar aku takut kehilangan mu, tapi aku juga masih saja selalu nakal. Entah karna aku yakin bahwa kau tak aka pernah berontak begitu besar, atau mungkin karna aku selalu saja bisa meyakinkanmu ketika kau mulai berusaha mengutarakan apa yang kau rasakan. Tapi percayalah, ketakutan akan kehilanganmu itu benar adanya.
Hingga sampai pada suatu ketika, entah karna kau terlalu lelah dengan sikapku yang tak berubah atau kau mulai termakan kata-kata orang kebanyakan itu. Kau berontak, kau begitu murka, murka yang tak pernah kulihat sama sekali diwajah sendu nan sejuk itu. Kau utarakan semua yang kau rasakan dengan suara bernada tinggi, namun berakhir isakan yang tak terhenti. Luapan air mata yang tertahankan mengakir begitu deras dari mata teduh yang selalu menyejukkan itu. Hingga puncaknya, kau terdiam lalu berkata, “Jika bersamaku kau tak merasakan bebas, kan kulepas kau. Aku akan pergi. Bukan karna rasa itu tak ada lagi, aku hanya tak ingin rasa yang kumiliki tak memberimu nyaman lagi.” Lalu kau berlalu meninggalku yang masih terpaku tak percaya.
Dari kejadian itu aku sengaja mendiamkannya, karna menunggu perasaan amarah menggebunya mereda. Aku begitu yakin bahwa amarahnya kemarin itu amarah sesaat yang bisa kembali kuredakan, karna aku tahu bahwa kau sangat menyayangiku. Namun sminggu berselang tak kudapati juga kau menghubungiku kembali. Bahkan aku juga tak pernah melihatmu lagi. Sengajakah kau menghindar..? Ternyata benar, ia menghindar. Aku beranikan diri menemuinya memastikan bahwa amarahnya telah mereda dan aku dengannya bisa kembali bersama. Namun ternyata tidak, ia benar-benar dengan semua perkataanya waktu itu. Ia lelah mengahdapiku yang tak pernah mau mencoba beubah, aku terlalu nyaman dengan sikapnya yang begitu menrimaku apa adanya.  Ternyata aku menyalahi ketulsannya, kepercayaannya, dan kesabarannya. Masih kuingat kata-katanya “Maaf aku tak bisa lagi beerada disamping mu sepertu dulu. Karna tak baik untuk hatiku. Aku sayang, namun aku sadar hatiku juga butuh kusayang.” Dan kau berlalu.
Kini di sini, aku tinggal bersama senja yang kau titipkan ketika kita bersama dulu. Namun senjanya kali ini kelabu. Entah karna perasaan kehilanganku atau menggambarkan kondisi hatimu. Tapi aku begitu menyesal menyia-nyiakan ketulusan dan kesabaran mu yang luar biasa itu. Aku masih berharap bisa mendapatkan kesempatan kembali untuk mengembalika indahnya jingga senja kita itu..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar